Waw!! Ekonomi Kelautan Indonesia Menjadi Perhatian Dunia

POLITIKNKRI.com – Indonesia adalah negeri yang luarbiasa, tidak hanya dikenal sebagai negri agraris karena menghasilkan rempah dan hasil bumi, tetapi juga dikenal sebagai negara maritim karena wilayahnya terdiri dari 2/3 lautan. Kini, semakin banyak kesadaran di banyak negara untuk membangun ekonomi kelautan yang berkelanjutan, tidak hanya untuk kepentingan negerinya, tetapi juga untuk kebaikan planet bumi. Tidak heran jika kemudian dunia mengapresiasi langkah-langkah Indonesia menertibkan penangkapan ikan ilegal dan eksploitatif dalam empat tahun terakhir ini.


Pastinya kita mengenal srikandi kelautan kita Susi Pudjiastuti, salah satu wanita hebat dalam jajaran kementrian Jokowi yang mengubah laut Indonesia kembali berjaya, dan utamanya mengubah kehidupan para nelayan menjadi jauh lebih baik.


Kehadian Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti menjadi pembicara dalam panel pembuka World Ocean Summit 2019 yang diselenggarakan The Economist di St Regis Saadiyat Island Resort, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 5-7 Maret 2019 tentunya mempunyai nilai penting, bagaimana Indonesia diakui dunia terbukti telah berhasil
melakukan banyak kemajuan dalam menjaga laut.

Dimana tujuan dari pertemuan tersebut adalah mengumpulkan para pembuat kebijakan dunia untuk berdialog dan berbagi pengalaman mengenai kebijakan perlindungan laut. Para diplomat, pemerhati lingkungan hidup, organisasi nonpemerintahan, serta para pemangku kepentingan sektor kelautan dan perikanan dari seluruh dunia hadir dalam acara ini. Wow…salut deh dengan Bu Susi!


Bukan ngecap atau jeplak dong jika dalam forum tersebut Susi mantap mengingatkan, ancaman terbesar bagi laut adalah penangkapan ikan yang berlebihan, baik di laut lepas maupun zona ekonomi eksklusif, yang tidak memperhatikan keberlanjutan ekosistem. Pelakunya pun luar biasa kuat karena transnasional dan terorganisasi. Hehehe….mantap bu! Sepertinya sih belum ada dalam sejarah menteri kelautan yang segokil ibu! Begitu tegas menjaga wilayah laut Indonesia dengan menenggelamkan kapal-kapal yang mencuri ikan di perairan Indonesia. Istilahnya, ini bukan sekedar mereka cukup tahu batas perairan, tetapi juga harus ada efek jera! Biar mereka kapok! Lha, nyatanya sekarang dunia menjadi menghormati perairan Indonesia. Hehehe…terima kasih ibu.


Kasus di Indonesia, kita kehilangan miliaran dollar AS dalam dua tahun terakhir. Karena itu, Indonesia membuat efek jera dengan menenggelamkan kapal,” ujarnya.

Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, kapal yang sudah ditenggelamkan sejak 2014 berjumlah 488 kapal. Nah, diprediksi kapal ilegal yang beroperasi di perairan Indonesia berjumlah 7.000 kapal. Itu pun belum termasuk jumlah ribuan kapal asing yang beroperasi di dekat perbatasan.


Terbukti langkah tegas Susi yang tidak ada ampun ini mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan dan industri perikanan di Indonesia. Kini nilai tukar nelayan meningkat dari 103 pada tahun 2014
menjadi 112 pada 2018, dan nilai tukar usaha nelayan naik dari 107 menjadi 124.


Ekspor hasil perikanan Indonesia sepanjang 2015–2018 juga menunjukkan grafik yang terus menanjak. Kinerja ekspor yang positif pada 2018 itu tampak dari beberapa poin. Pertama, bertambahnya volume dan nilai ekspor hasil perikanan. Pada periode Januari–Oktober 2018, volume ekspor tercatat 915,64 ribu ton atau naik 6,22 persen dibandingkan periode yang sama pada 2017. Sementara dari sisi nilai naik 10,33 persen dari 3,61 miliar dollar AS pada Januari–Oktober 2017 menjadi 3,99 miliar dollar AS di periode yang sama 2018.


Hebatnya laut Indonesia bersama Susi tidak hanya sampai pada meningkatkan ekspor ikan. Tetapi juga melindungi keberlanjutan ekobiologi sumber daya kelautan agar stok ikan terjaga. Terbukti Indonesia mampu mengupayakan keduanya. Keberlanjutan sumber daya ikan adalah kunci keberlangsungan produksi dan ekspor hasil perikanan Indonesia.


Indonesia boleh bangga sedikit dengan mengatakan bahwa lautnya saat ini dalam kondisi sehat. Berdasarkan Komnas Kajiskan, stok ikan pada 2016 tercatat 12,54 juta ton, naik dari 7,31 juta ton pada 2013 dan 9,93 juta ton pada 2015.


Kesemuanya ini merupakan salah satu dampak dari kebijakan pemerintah untuk secara serius memberantas IUU Fishing dan melarang penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Pelarangan alih muat di laut (transshipment at sea) serta pembatasan ukuran kapal penangkap ikan maksimal 150 GT dan kapal pengangkut 200 GT juga menjadikan populasi ikan kian pulih.


Di depan forum juga Susi juga mengatakan bagaimana peranan dan dukungan politik yang kuat diberikan oleh Presiden Jokowi. Berkat pemerintahan Jokowi tata kelola perikanan mengalami reformasi. Juga dukungan kuat yang diperoleh Susi dari Satuan Tugas 115 yang merupakan gabungan TNI AL dan polisi laut terkonsolidasi dan terkoordinasi dengan baik.


Duh nggak heran jika Indonesia mendapatkan apresiasi dari pembicara lain Managing Director Badan Lingkungan Abu Dhabi Razan Khalifa alMubarak. Termasuk juga tokoh-tokoh internasional yang dikenal aktif memperjuangkan keberlanjutan sumber daya laut lepas, yakni Dr Enric Sala (National Geographic), Dr Rashid Sumaila (Univeristy of British Columbia), dan Tony Long (Global Fishing Watch), yang sangat mengapresiasi inisiatif Indonesia yang aktif mengampanyekan pentingnya memperhatikan keberlanjutan sumber daya laut lepas dan keamanan maritim.


Terus bagaimana, dengan kamu dan kamu rakyat Indonesia, apakah kamu tidak bangga saat negeri kita ini semakin dihargai dimata dunia? Indonesia semakin banyak menoreh keberhasilan berkat kerja keras Jokowi yang ditularkan kepada para menterinya yang hebat! Apreasiasi dunia terhadap laut Indonesia adalah contoh nyata kerja keras dan keberanian Susi Pudjiastuti salah satu menteri hebat di jajaran pemerintahan Jokowi. Fakta ekonomi kelautan Indonesia pun telah mencuri perhatian dunia! Terima kasih Bu Susi, maju terus Indonesia!

Artikel ini telah tayang di seword.com dengan judul Waw!! Ekonomi Kelautan Indonesia Menjadi Perhatian Dunia

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RSS
Facebook
Facebook
Instagram