Polisi, militer mengantisipasi meningkatnya ketegangan menjelang pemilihan umum bulan April di Indonesia

JAKARTA (JAKARTA POST / JARINGAN ASIA NEWS) – Wakil Kepala Kepolisian Nasional Ari Dono Sukmanto mengatakan pada hari Sabtu (2 Maret) bahwa polisi telah berfokus pada pencegahan konfrontasi yang berkembang antara pendukung calon presiden menjelang pemilihan legislatif dan pemilihan presiden pada April

Komisaris Jenderal Ari mengatakan munculnya konfrontasi antara pendukung kedua kubu tidak hanya di media sosial, tetapi juga di depan umum.

“Mereka biasanya berisik hanya di media sosial, tetapi sekarang mereka juga melakukannya secara offline. Kita harus mencegah tren ini,” katanya dalam sebuah diskusi yang diadakan oleh Keluarga Polisi Nasional di sebuah hotel di Jakarta Selatan.

Forum tersebut dihadiri oleh berbagai lembaga, termasuk kepolisian dan kelompok hak asasi Setara Institute, serta para pakar politik.

Dengan lebih dari setengah populasi terhubung ke Internet, orang Indonesia sangat terikat pada platform media sosial, termasuk Facebook, Twitter, dan Instagram, membuat berita palsu dan pidato kebencian di media sosial rawan menyebabkan sengketa offline.

Pada bulan November, seorang pria ditembak mati di Sampang, Madura, setelah memposting status yang mendukung kandidat presiden di Facebook. Dia bertemu salah satu dari mereka yang menentangnya di jalan dan terlibat dalam perkelahian yang menyebabkan penembakannya.

Polisi juga telah menangkap orang-orang yang diduga menyebarkan pidato kebencian melalui media sosial. Sebuah video yang baru-baru ini beredar di media sosial menunjukkan tiga wanita di Karawang, Jawa Barat, mengklaim bahwa Presiden Joko Widodo yang harus terpilih kembali, ia akan melarang adzan (panggilan untuk berdoa) dan melegalkan pernikahan sesama jenis. Para wanita itu ditangkap karena menghasut ucapan kebencian di bawah Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Polisi dan pakar politik khawatir bahwa berita palsu dan penyebaran pidato kebencian akan meningkat menjelang pemilihan.

“(Pengaruh gangguan informasi yang salah) terjadi pada (2016) pemilihan presiden di Amerika Serikat. Mungkin ini bisa terjadi pada kita juga. Masyarakat harus siap untuk menanggapi ini secara kritis,” kata Komisaris Jenderal Ari, merujuk pada informasi yang merajalela merajalela di Facebook yang diduga mempengaruhi pemilihan AS.

Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa polisi saat ini mengambil langkah tegas untuk melawan informasi yang keliru, menyatakan harapan bahwa lebih banyak organisasi sipil membantu meredakan ketegangan.

Mr Hendardi, ketua Setara Institute, sebuah organisasi non-pemerintah yang berfokus pada advokasi dan penelitian tentang demokrasi dan hak asasi manusia, mengatakan langkah polisi untuk mencegah disinformasi berada di jalur yang benar. Langkah ini termasuk penangkapan kelompok cyber Saracen dan Tentara Cyber ​​Muslim karena sengaja menyebarkan kebohongan melalui media sosial.

Dia mengatakan polisi juga telah melakukan beberapa upaya pencegahan, termasuk meningkatkan kesadaran di masjid tentang berita palsu.

“Namun, hasilnya masih kurang,” kata Hendardi, yang bernama satu nama.

Militer Indonesia mengatakan bahwa pihaknya juga telah menyiapkan 9.600 personel di Kalimantan untuk membantu polisi meningkatkan keamanan menjelang pemilu April.

Komandan Distrik Militer Mulawarman Mayor Jenderal Subiyanto mengatakan personel akan menjaga daerah perbatasan di Kalimantan yang secara langsung menghubungkan Sarawak dan Sabah Malaysia serta pusat-pusat kota dan kabupaten.

“Samarinda, Banjarmasin, dan Balikpapan adalah prioritas kami,” katanya.

Banjarmasin adalah ibu kota Kalimantan Selatan, yang juga merupakan kota terpadat di bagian Indonesia di Pulau Kalimantan.

Mayor Jenderal Subiyanto mengatakan kota-kota di Kalimantan Utara, seperti Tarakan dan Tanjung Selor juga sedang diawasi.

Artikel ini telah tayang di www.straitstimes.com dengan judul Polisi, militer mengantisipasi meningkatnya ketegangan menjelang pemilihan umum bulan April di Indonesia

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RSS
Facebook
Facebook
Instagram