4 Masalah Kesehatan Mental Yang Dihadapi Para Pekerja Kantor, Anda Pernah Mengalaminya?

Kesehatan Mental topik hangat yang sering jadi bahan perbincangan akhir-akhir ini. Untuk Anda yang bekerja kantoran, ternyata ada beberapa masalah/gangguan kesehatan mental yang umum dialami oleh para karyawan, lho. Bisa jadi Anda pun pernah atau sedang mengalaminya. Seperti dikutip dari Harvard Health Publishing, ini dia 4 masalah kesehatan mental yang kerap diderita para pekerja kantoran.

Melalui sebuah penelitian tentang masalah kesehatan mental dan fisik yang diadakan kepada lebih dari 34 ribu responden dari 10 perusaahaan menunjukkan bahwa masalah kesehatan yang paling berpengaruh terhadap keuangan perusahaan (secara langsung maupun tidak langsung) adalah depresi di urutan pertama, dengan masalah obesitas, radang sendi, nyeri pada punggung dan leher termasuk di antaranya. Untuk kesehatan mental para karyawan sendiri, 4 hal inilah yang menempati urutan tertinggi:

1. Depresi
Depresi ternyata merupakan kondisi gangguan kesehatan yang paling umum ditemui di lingkungan pekerjaan. Menurut DSM-IV, kriteria standar pengklasifikasian gangguan kesehatan mental dari Asosiasi Psikiater Amerika, mood yang buruk/rendah (low mood) adalah salah satu tanda jelas kondisi depresi.

Namun, di tempat kerja, karyawan yang mengalami depresi bisa mengalami tanda-tanda seperti rasa gugup, gelisah/tertekan, mudah terganggu/sensitif, kelelahan, dan gangguan tidur di malam hari, hingga gangguan pada kondisi fisik seperti rasa sakit dan nyeri. Depresi pada para pekerja kantoran juga berakibat menurunnya kemampuan pengambilan keputusan saat bekerja.

2. Bipolar
Di tempat kerja, kondisi bipolar umumnya ditandai dengan perubahan siklus antara keadaan penuh semangat berlebihan (manic) dan keadaan depresi sang karyawan. Kondisi manic biasanya terlihat saat karyawan tampak energik dan kreatif, tetapi performa kerjanya malah menurun. Saat kondisi manic mencapai puncaknya, karyawan tersebut akan terlihat lebih agresif, mengabaikan peraturan perusahaan, dan berusaha mengambil alih kekuasaan/tampil sebagai pemimpin.

Kondisi manic akan terlihat lebih jelas di kantor, tetapi ternyata kondisi depresi dari bipolar akan lebih membahayakan dan mengganggu kinerja kerja di kantor. Kondisi depresi ditandai dengan rasa gugup, gelisah/tertekan, mudah terganggu, kelelahan, dan beberapa gejala lain di poin nomor 1. 

3. Gangguan panik berlebihan/anxiety disorder
Gangguan pabik berlebihan/anxiety disorder di kalangan pekerja kantoran ditandai dengan rasa lelah, kesulitan berkonsentrasi, kecemasan/rasa panik berlebihan, dan kesulitan tidur/beristirahat dikarenakan ketidakmampuan untuk berhenti berpikir. Karyawan tersebut merasa memerlukan pengakuan tentang performa dan kinerja kerjanya.
Mirip dengan depresi, saat mengalami anxiety, terkadang gejala kesehatan fisik seperti rasa sakit/nyeri dan sensitivitas karyawan pun menyertai.
Sayangnya, meskipun mengalami gejala anxiety disorder, tidak banyak yang mencari bantuan. Umumnya, pengobatan dilakukan untuk mengatasi gejala fisik yang menyertai seperti asam lambung, gangguan tidur, atau masalah pada jantung. Selain mengganggu produktivitas saat bekerja, gangguan kecemasan ini juga berakibat meningkatnya jumlah cuti sakit yang diambil karyawan.

4. Gangguan terhadap kemampuan berkonstrasi/ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder) 
ADHD merupakan gangguan kesehatan mental yang umumnya ditemui pada anak-anal, tetapi ADHD ternyata juga bisa menyerang Anda dan saya yang sudah dewasa ini. Menurut sebuah survei di 10 negara termasuk Amerika, diperkirakan 3,5% karyawan mengidap ADHD. Di kantor, ADHD ditandai dengan gejala ketidakmampuan mengorganisasi, menyelesaikan pekerjaan sesuai deadline, mengatur beban pekerjaan, kesulitan mengikuti arahan atasan, dan bertengkar dengan rekan kerja.

Para karyawan yang mengidap ADHD tentu kinerja kerjanya dipengaruhi kondisi ini, selain karena cuti sakit atau hari-hari berkerja yang tidak produktif di kantor. Karyawan pengidap ADHD juga 18 kali lebih berisiko terkena sanksi/teguran di kantor, menerima gaji yang lebih rendah, bahkan memiliki risiko 2-4 kali lebih mungkin kehilangan pekerjaan karena PHK dibandingkan karyawan tanpa ADHD.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RSS
Facebook
Facebook
Instagram