Bukti Prabowo Selalu Ngawur dan Hanya Sebar Hoax Soal Kondisi Indonesia

politiknkri.com – Prabowo Subianto sebagai Capres di Pemilu 2019 tak henti-hentinya berkata penuh kebohongan soal kondisi riil Indonesia saat ini dan kedepan. Pernyataan-pernyataan Capres No. 02 itu di berbagai forum dan kesempatan selalu menyebarkan ketakutan-ketakutan mengenai kondisi negara.

Menurut Prabowo, saat ini Indonesia menjadi negara yang tekor atau rugi karena hidup dalam utang.

“Tapi kita sebagai bangsa, kita ini tekor sebagai bangsa, kita bangsa yang rugi. Kita bangsa yang hidup dari utang,” ujar Prabowo di acara Rakernas LDII di Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis (11/10).

Juru Bicara PSI Dedek Prayudi mengaku heran dengan tudingan Prabowo yang penuh kebohongan itu. Tak henti-hentinya berbicara ngawur.

“Kami tak paham, ini adalah konsistensi dalam kengawuran atau kebohongan secara terus-menerus,” ujar Juru Bicara PSI Dedek Prayudi dalam keterangan tertulisnya, Jumat (12/10/2018).

PSI meluruskan tudingan yang dinilai ngawur itu. Dedek membeberkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Dunia soal angka kemiskinan.

“Data BPS maupun Bank Dunia tidak menunjukkan demikian. Angka kemiskinan terus turun sejak era reformasi bergulir, hingga hari ini. Pada Februari 2018, angka kemiskinan bahkan sudah menyentuh level terendah sepanjang sejarah bangsa, yakni di bawah 10%,” papar Dedek.

PSI menyebut Prabowo memakai ilmu ‘cocokologi’ dalam membandingkan data. Selain angka kemiskinan yang terus menurun, Dedek juga mengutip data pendapatan per kapita yang disebut terus naik.

“Dalam menyebut Indonesia semakin miskin, beliau mengatakan pendapatan rakyat tetap sama, nilai Dolar naik. Ini adalah definisi operasional kemiskinan yang ia karang sendiri, cocokologi yang mengkhianati kaidah ilmu ekonomi,” ujarnya.

“Di samping, pendapatan perkapita, menurut BPS, Bank Dunia, maupun CIA Factbook, tumbuh terus. Contoh, dari BPS, kenaikan terjadi dari Rp 41 juta/tahun pada 2014, menjadi Rp 51 juta/tahun pada 2017,” imbuh Dedek.

Masih menurut data BPS dan Bank Dunia, menurut Dedek, daya beli masyarakat meningkat 5% tiap triwulan. Angka ketimpangan juga tercatat menurun sejak 2014.

“Perlu dicatat, pada 2014, ketimpangan untuk pertama kali turun sejak Indonesia keluar dari krisis ekonomi, menurut data Bank Dunia dan BPS. Daya beli juga dilaporkan meningkat setiap triwulannya sekitar 5%,” jelas Dedek.

Prabowo juga saat rapat kerja nasional Lembaga Dakwah IslamIndonesia (LDII) di Jakarta Timur, Kamis (11/10) menyebut sistem perekonomian di Indonesia sama dengan ekonomi kebodohan. Istilah ‘ekonomi kebodohan’ disebut Prabowo karena ia mengklaim jutaan hektare tanah dikuasai swasta.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) kemudian menyerang balik Capres yang didukung Geridra, PKS, PAN dan Demokrat tersebut penuh kebodohan.

“Serangan ekonomi kebodohan, Pak Prabowo semakin menunjukkan bahwa beliau pura-pura lupa dengan sejarah, lalu menimpakan hal tersebut sebagai kesalahan Presiden Jokowi. Padahal dari aspek elementer saja, Pak Prabowo tidak bisa membedakan antara penganiayaan dan operasi atau markup wajah. Inilah contoh dari kebodohan itu sendiri,” ujar Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto dalam keterangan tertulisnya, Jumat (12/10/2018).

Menurutnya, pendapat Prabowo dinilai klaim sepihak. PDIP pun membanggakan kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang prorakyat seperti Kartu Indonesia Sehat, pembagian sertifikat tanah terhadap warga, hingga divestasi saham PT Freeport Indonesia.

Memang cukup disayangkan seorang Capres level Prabowo berbicara tanpa didukung bukti nyata. Selalu berbicara penuh ambisi sendiri atas hanyalan sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RSS
Instagram